Skip to main content

Kuliah di UGM

 Kuliah di UGM


Gama, atau Universitas Gadjah Mada, sudah saya dengar sejak saya masih SD. Kesannya? Tidak ada. Saya bahkan tidak tahu universitas itu apa. Jadi saya tidak peduli. Gama hanya sebuah nama yang perlu saya ingat untuk keperluan lomba cerdas cermat. 


Ketika saya SMP, tepatnya madrasah tsanawiyah, saya mulai paham, bahwa Gama atau UGM adalah salah satu universitas  besar di Indonesia. Tertarik masuk? Tidak. Dulu saya bermimpi untuk masuk pesantren, belajar agama, dan kuliah ke Arab atau ke Mesir. 


Ketika saya akhirnya tidak jadi melanjutkan ke pesantren karena Ayah tak sanggup membiayai, saya juga tidak terpikir untuk masuk UGM. Yang jadi mimpi saya dulu adalah kuliah ke luar negeri setamat SMA. Jadi, masuk UGM tidak pernah jadi mimpi saya. 


Kenapa akhirnya masuk UGM? Itu cadangan saja. Akhirnya saya tidak lulus seleksi program beasiswa sekolah ke liar negeri, apa boleh buat, saya harus puas dengan lulus masuk ke UGM. Waktu tingkat satu saya masih cari-cari jalan untuk meninggalkan UGM, dengan mencari peluang beasiswa.


Ketika akhirnya saya jadi mahasiswa UGM, ada rasa bangga, bercampur kecewa, karena gagal kuliah ke luar negeri. Oh, begini rasanya jadi mahasiswa UGM. Di angkatan saya, seingat saya hanya ada 11 orang yang diterima di UGM dari seluruh Kalimantan Barat. Menjadi salah satu dari 11 orang itu lumayan membanggakan.


Terlebih, saat baru tiba di Yogya, saya sempat tinggal di asrama mahasiswa Kal-Bar di Bintaran. Dari semua calon mahasiswa yang tinggal di situ, saya satu-satunya yang lulus masuk UGM. 


Selebihnya, sebagai mahasiswa UGM saya memandang bahwa berprestasi itu sesuatu yang lazim saja. Kalau ada mahasiswa UGM menang lomba karya tulis, ya wajar. Menang pertandingan olah raga, ya memang seharusnya. Menang kompetisi drum band atau paduan suara, sering. Di UGM memang banyak orang berprestasi.


Lalu, apakah setiap mahasiswa UGM itu berprestasi? Tidak. Saya tidak punya prestasi apa-apa.  Setelah kuliah selama 6,5 tahun, saya lulus dengan IPK 2,65. Mahasiswa papan bawah. 


Saat wisuda badan saya bergetar. Ada 2500 wisudawan  berkumpul di halaman Balairung Gedung Pusat UGM. Yang segera terpikir oleh saya, apakah mereka semua akan bisa bekerja? Saya sendiri tidak punya jawaban untuk diri saya. 


Apakah sebagai lulusan UGM ada kemudahan untuk dapat pekerjaan? Mungkin ada sedikit kemudahan. Pekerjaan pertama saya adalaah logging engineer di perusahaan kontraktor minyak. Informasi lowongan saya dapat dari senior yang jadi manager di perusahaan itu. Ia mengirim informasi perekrutan ke jurusan kami. Tapi setelah itu proses biasa saja. Ketika seleksi, ada hampir 20 orang teman saya yang tidak lolos. Saya lolos bersama satu teman lagi. Padahal kuota lowongan masih cukup banyak. Artinya, meski kamu mahasiswa/lulusan UGM, kalau kamu tidak punya kompetensi, kamu tidak dapat pekerjaan. Arti lain, mahasiswa/ lulusan UGM pun banyak yang tidak kompeten.


Ketika saya studi S3 di Jepang, profesor saya awalnya meremehkan saya. Setelah melihat kegigihan saya, dia mulai menyukai saya. Lulus doktor saya diminta bekerja jadi asisten dia selama 2 tahun. Nah, saat itu ada kuota beasiswa yang bisa kami pakai, kami bisa memilih siapa saja. Profesor saya menyuruh saya mencari mahasiswa. "Cari yang lulusan UGM seperti kamu," perintahnya.


Saya waktu itu hanya bisa menyeleksi lewat email. Dapat satu kandidat, yang akhirnya tiba di Jepang, jadi mahasiswa di tempat saya. Namun sayang, kinerjanya tak seperti diharapkan profesor saya. Etos kerjanya rendah.


Intinya, kampus tidak menjamin apapun. Sebagai lulusan UGM saya hanya bisa menjamin kualitas diri saya. Inilah saya. Inilah kualitas saya. Saya lulusan UGM. Tapi kualitas saya ini tak terkait dengan kualitas UGM. Yang berkualitas jauh lebih baik dari ini, banyak. Yang jauh lebih buruk, juga banyak. Nama UGM tidak memberi jaminan kualitas apapun.


Saya bangga menjadi lulusan UGM. Tapi saya lebih ingin menjadi lulusan UGM yang bisa dibanggakan. Menjadi manusia berguna.


Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada semua

Ku berjanji memenuhi panggilan bangsaku

Di dalam Pancasila-mu jiwa seluruh nusaku

Ku junjung kebudayaanmu, kebudayaan Indonesia

Comments

Popular posts from this blog

Mental Gratis

 Mental Gratis Sejak tumbangnya Soeharto mulai banyak politikus yang menumbuhkan mental gratis. Entah siapa yang memulai. Politikus menjanjikan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan berbagai layanan lain secara gratis. Kalau mau menggratiskan, berarti politikus itu merakyat, peduli pada wong cilik, dan itu keren. Padahal ini adalah pembodohan. Digratiskan itu bukan berarti layanan itu tanpa biaya. Segala macam layanan itu ada biayanya. Soalnya adalah, siapa yang menanggung biayanya? Pemerintah. Dari mana sumber dananya? Dari anggaran.  Apa yang dilakukan oleh politikus itu? Dia benar-benar keren kalau dia mampu menggali sumber-sumber pendapatan baru, yang dipakai untuk membiayai layanan tadi. Tapi itu nyaris tidak pernah terjadi. Ia hanya mengalihkan pos anggaran. Itu artinya ada layanan lain yang dihilangkan.  Apa yang dihilangkan? Nah, ini yang mengerikan. Banyak hal fundamental yang dihilangkan, demi mengejar layanan gratis tadi. Pembangunan infrastruktur, pengembangan ...

The Science of Love

 The Science of Love Professor Xiaochu Zhang dari University of Science and Technology of China, yang bekerja sama dengan para peneliti dari Icahn School of Medicine at Mount Sinai, New York, melakukan penelitian tentang cinta. Mereka memakai MRI sebagai alat utama dalam penelitian itu. Ada 100 orang relawan yang dibagi dalam 3 kelompok. Kelompok pertama adalah orang-orang yang sedang jatuh cinta. Kelompok kedua sebaliknya, orang yang putus cinta. Kelompok ketiga, adalah orang-orang yang tidak punya banyak pengalaman asmara. Ketiga kelompok orang itu dipindai otaknya dengan MRI. Tampaklah hasilnya, bahwa orang-orang yang sedang jatuh cinta lebih aktif pada otak yang mengelola urusan emosi, gairah, dan hubungan sosial. Sementara pada kedua kelompok lain aktivitasnya tampak rendah. Apa itu cinta? Manusia sangat sulit mendefinisikannya, karena ia memang bukan sesuatu yang pasti. Air adalah H2O, kita bisa mendefinisikannya dengan pasti. Tapi cinta adalah emosi, bercampur dengan perseps...