Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2020

Panduan Menyikapi Bulshit Maketing

Bulshit marketing itu adalah menjual produk dengan memakai jargon-jargon ilmiah, tapi sebenarnya isinya bulshit, atau omong kosong. Bentuk produknya bisa bermacam-macam. Ada air ajaib, batu ajaib, gelang-kalung ajaib, segala macam benda yang dibeli label nano, dan sebagainya. Polanya, ada satu alat yang memancarkan medan magnet, energi skalar, gelombang anu-anu, atau apalah, memakai istilah yang terdengar ilmiah. Orang awam akan ternganga mendengarnya. Tapi tidak ada sains di situ. Itu cuma omong kosong. Berikut ini adalah panduan yang bisa Anda pakai dalam menyikapi bulshit marketing. 1. Dunia kedokteran modern tidak menganjurkan untuk minum air jenis ini itu, diproses begini begitu. Tidak! Cukup air saja, yang bersih. Makin alami airnya makin baik. Air sungai, air sumur, air mata air, yang bersih, bening, tidak berbau, tidak berwarna, itu sudah baik.  2. Air yang diolah dengan listrik, medan ini itu, gelombang anu-anu, dibuat nano-nano, kalau pun berubah sifatnya setelah diolah, ...

Menantang Presiden Suntik Vaksin Pertama

 Menantang Presiden Suntik Vaksin Pertama Banyak orang, termasuk tokoh penting, menantang Presiden Jokowi untuk disuntik vaksin Covid19 pertama kali. Apa yang sebenarnya sedang mereka ekspresikan melalui tantangan itu? Bagi saya, tantangan itu tanda kebodohan. Vaksin itu sudah disuntikkan ke ribuan orang saat uji klinis. Siapa pun yang menerima suntikan pertama saat vaksinasi nanti, itu hanya soal seremoni belaka.  Yang menantang itu mungkin hendak meminta jaminan keamanan vaksin tersebut. Kalau memang aman, suntikkan ke orang nomor satu. Ini betul-betul kebodohan. Keamanan vaksin tidak dijamin dengan cara itu. Ada proses riset yang panjang sebelum vaksin itu disuntikkan ke manusia. Lalu, seperti disebut di atas, sudah ada ribuan orang yang menerima suntikan vaksin ini. Kalau vaksin itu tidak aman, ribuan orang tadi sudah kelojotan mati. Intinya, itu sebenarnya ekspresi ketidakpercayaan. "Kami tidak percaya pada Presiden," begitu mungkin hal yang ingin disampaikan. Untuk apa?...

Vaksin dan Ocehan Cing Mi

 Vaksin dan Ocehan Cing Mi Waktu pemerintah Indonesia memutuskan untuk melakukan uji klinis vaksin Covid19 buatan Cina, kaum Cing Mi (cacing kremi) mengejek: "Mau aja dijadikan kelinci percobaan." Bukang, Cing. Itu manusia percobaan. Uji klinis itu harus dilakukan terhadap manusia. Tidak lagi bisa terhadap hewan. Itu kamu anggap rendah? Ya karena cacing kremi nggak paham uji klinis. Tanpa uji klinis kita tidak akan pernah punya vaksin. Jadi memilih jadi manusia percobaan itu bukan tindakan rendah.  Lalu kaum Cing Mi menyebar berita "Cina kekurangan monyet untuk uji vaksin". Dengan imajinasi mereka, dikaranglah cerita seolah orang Cina tidak mau disuntik pakai vaksin mereka sendiri. Cuma pakai monyet doang. Itu lagi-lagi kebodohan. Sejak bulan Juli Cina sudah menyuntikkan ratusan ribu  vaksin ke rakyatnya, sebagai penggunaan darurat. Ini bukan tes, Cing, penggunaan! Memang penggunaan itu dikritik sebagian ilmuwan. Kok sudah dipakai sebelum uji klinis selesai? Ya, kar...

Kuliah di UGM

 Kuliah di UGM Gama, atau Universitas Gadjah Mada, sudah saya dengar sejak saya masih SD. Kesannya? Tidak ada. Saya bahkan tidak tahu universitas itu apa. Jadi saya tidak peduli. Gama hanya sebuah nama yang perlu saya ingat untuk keperluan lomba cerdas cermat.  Ketika saya SMP, tepatnya madrasah tsanawiyah, saya mulai paham, bahwa Gama atau UGM adalah salah satu universitas  besar di Indonesia. Tertarik masuk? Tidak. Dulu saya bermimpi untuk masuk pesantren, belajar agama, dan kuliah ke Arab atau ke Mesir.  Ketika saya akhirnya tidak jadi melanjutkan ke pesantren karena Ayah tak sanggup membiayai, saya juga tidak terpikir untuk masuk UGM. Yang jadi mimpi saya dulu adalah kuliah ke luar negeri setamat SMA. Jadi, masuk UGM tidak pernah jadi mimpi saya.  Kenapa akhirnya masuk UGM? Itu cadangan saja. Akhirnya saya tidak lulus seleksi program beasiswa sekolah ke liar negeri, apa boleh buat, saya harus puas dengan lulus masuk ke UGM. Waktu tingkat satu saya masih cari...

Mental Gratis

 Mental Gratis Sejak tumbangnya Soeharto mulai banyak politikus yang menumbuhkan mental gratis. Entah siapa yang memulai. Politikus menjanjikan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan berbagai layanan lain secara gratis. Kalau mau menggratiskan, berarti politikus itu merakyat, peduli pada wong cilik, dan itu keren. Padahal ini adalah pembodohan. Digratiskan itu bukan berarti layanan itu tanpa biaya. Segala macam layanan itu ada biayanya. Soalnya adalah, siapa yang menanggung biayanya? Pemerintah. Dari mana sumber dananya? Dari anggaran.  Apa yang dilakukan oleh politikus itu? Dia benar-benar keren kalau dia mampu menggali sumber-sumber pendapatan baru, yang dipakai untuk membiayai layanan tadi. Tapi itu nyaris tidak pernah terjadi. Ia hanya mengalihkan pos anggaran. Itu artinya ada layanan lain yang dihilangkan.  Apa yang dihilangkan? Nah, ini yang mengerikan. Banyak hal fundamental yang dihilangkan, demi mengejar layanan gratis tadi. Pembangunan infrastruktur, pengembangan ...

Mendelegasikan Pekerjaan

Mendelegasikan Pekerjaan Mendelegasikan pekerjaan artinya menyerahkan pekerjaan untuk dikerjakan oleh orang lain, yaitu bawahan kita. Kenapa diserahkan? Karena kita tidak boleh bekerja sendiri. Kita harus bekerja sebagai sebuah tim. Kita harus bekerja sama. Jadi, mendelegasikan pekerjaan adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap orang yang punya bawahan. Apa keuntungannya? Keuntungannya sangat jelas, yaitu Anda tidak perlu lagi mengerjakan pekerjaan itu. Biarkan orang lain bekerja. Lho, kok enak? Memang harus seperti itu. Ini hal yang sebenarnya harus terjadi. Makin tinggi posisi seseorang makin sedikit porsi pekerjaan yang harus dia kerjakan sendiri. Orang pada posisi tinggi fungsinya bukan mengerjakan, tapi memikirkan apa yang harus dikerjakan.  Seorang manajer bertugas menerima pekerjaan, membagikannya kepada bawahan, lalu memantau apakah pekerjaan itu berjalan sesuai rencana atau tidak. Kalau tidak, ia harus memikirkan tindakan koreksi. Kalau berjalan sesuai rencana, ia...

The Science of Love

 The Science of Love Professor Xiaochu Zhang dari University of Science and Technology of China, yang bekerja sama dengan para peneliti dari Icahn School of Medicine at Mount Sinai, New York, melakukan penelitian tentang cinta. Mereka memakai MRI sebagai alat utama dalam penelitian itu. Ada 100 orang relawan yang dibagi dalam 3 kelompok. Kelompok pertama adalah orang-orang yang sedang jatuh cinta. Kelompok kedua sebaliknya, orang yang putus cinta. Kelompok ketiga, adalah orang-orang yang tidak punya banyak pengalaman asmara. Ketiga kelompok orang itu dipindai otaknya dengan MRI. Tampaklah hasilnya, bahwa orang-orang yang sedang jatuh cinta lebih aktif pada otak yang mengelola urusan emosi, gairah, dan hubungan sosial. Sementara pada kedua kelompok lain aktivitasnya tampak rendah. Apa itu cinta? Manusia sangat sulit mendefinisikannya, karena ia memang bukan sesuatu yang pasti. Air adalah H2O, kita bisa mendefinisikannya dengan pasti. Tapi cinta adalah emosi, bercampur dengan perseps...

Mendisiplinkan Anak dengan Lembut

 Mendisiplinkan Anak dengan Lembut Mengasuh anak itu menguras emosi. Ada banyak hal yang dilakukan anak yang bisa membuat kita marah. Anak-anak tidak disiplin, tidak patuh, melakukan hal-hal yang kita tidak ingin mereka melakukannya. Mereka berisik, bertengkar, bermain berlebihan, bahkan sampai merusak barang-barang. Pada tingkat yang lebih tinggi, anak-anak melawan kita, orangtua mereka. Situasinya sudah berubah jadi konflik, bukan lagi hubungan kasih sayang. Situasi ini lebih menguras emosi. Bila tidak mampu mengendalikan, emosi kita justru akan memperburuk hubungan dengan anak.  Apa yang harus dilakukan? Dalam pengasuhan anak kita perlu mengendalikan dua hal, yaitu perilaku anak dan emosi kita sendiri. Dalam hal ini ada satu hal penting yang perlu kita ingat. Yaitu, pengendalian perilaku anak harus berbasis pada suatu nilai, bukan sekadar mengikuti keinginan kita belaka. Banyak orangtua yang ingin anaknya patuh. Apa yang harus dipatuhi? Kehendak orangtua. Kalau orangtua ing...

Skill atau Kedekatan

 Skill atau Kedekatan Ada satu lagi pertanyaan di kelas manajemen saya. Ini tipikal pertanyaan PNS. "Di tempat kerja saya yang naik jabatan biasanya bukan orang yang punya skill dan prestasi, tapi orang yang dekat dengan atasan." Banyak orang yang tidak kunjung naik, meski ia punya kemampuan. Begitu katanya. Perlukah keduanya dipertentangkan? Kalau saya, saya tingkatkan skill, saya raih prestasi, tapi juga saya bangun kedekatan dengan atasan. Kenapa perlu menjauh dengan alasan bahwa kita profesional? Kenapa kita biarkan atasan kita dikelilingi orang-orang yang tak becus kerja? Tapi bagaimana kalau dia korup? Kalau Anda tidak bisa menghalangi, setidaknya jangan ikut. Saya pernah jadi PNS. Saat saya datang untuk bertemu atasan, saya mendengar pembicaraan orang sedang berbagi proyek kolusi. Tapi saya tidak datang untuk itu. Saya datang sebagai orang profesional. Saya menjalin hubungan yang akrab, tapi tetap profesional. Saya khawatir, ungkapan-ungkapan seperti hanya dalih untuk ...

Realistis atau Ambisius

 Realistis atau Ambisius? Dalam kelas manajemen yang saya asuh ada peserta bertanya soal ini. Dia memasang target bisnis realistis dengan hitungan cermat. Sementara rekan bisnisnya memasang target tinggi tanpa hitungan cermat. Katanya, hitungan cermat tidak diperlukan. Pertama saya tegaskan, semua perusahaan besar bergerak dengan perhitungan cermat. Rencana bisnis dihitung dengan detil, berbasis data sahih. Risiko dihitung, dan disiapkan langkah-langkah antisipasi. Kalau ada bisnis tanpa perhitungan, itu lebih tepat disebut berjudi. Tapi saya ingatkan soal kata "realistis" tadi. Realistis itu artinya masuk akal, berdasarkan sebuah perhitungan. Pertanyaannya, apakah target ambisius tadi tidak realistis? Bukan begitu. Target ambisius itu tidak realistis bila tidak disertai perhitungan yang masuk akal. Kalau ada target ambisius, cobalah merumuskan formula yang masuk akal untuk mencapainya. Jangan berhenti dengan alasan itu tidak realistis. Sesuatu tampak tidak realistis hanya ka...

Tak Harus Mulai dari Bawah

 Tak Harus Mulai dari Bawah Tadi saya memberi kuliah on line untuk mahasiswa tingkat 1 (TPB) ITB. Tiap tahun kawan saya Prof. Bobby Eka Gunara mengundang saya untuk mengisi satu sesi di kelas yang dia asuh. Saya isi dengan memperkenalkan dunia kerja kepada para mahasiswa. Salah satu penanya tadi bertanya soal dari mana mulai berkarir. Dia merujuk pada posting lulusan UI beberapa tahun yang lalu, yang enggan digaji kecil. Mahasiswa tadi bertanya, apakah sebaiknya kita jaga gengsi, atau mau mulai dari bawah? Jawaban saya, jangan mau mulai dari bawah. Mulailah dari tempat tertinggi yang bisa Anda tempati. Baik dalam hal posisi maupun gaji, cara berpikirnya sama. Kalau Anda bisa memulai karir dari posisi manajer, kenapa perlu mulai dari staf? Kalau bisa dapat gaji pertama 10 juta, kenapa perlu mulai dengan gaji 5 juta?  Ada banyak orang yang memulai karir langsung dari posisi menengah, atau posisi menengah atas. Saya melihat CV beberapa orang hebat seperti Pahala Mansuri atau Nadi...