The Science of Love
Professor Xiaochu Zhang dari University of Science and Technology of China, yang bekerja sama dengan para peneliti dari Icahn School of Medicine at Mount Sinai, New York, melakukan penelitian tentang cinta. Mereka memakai MRI sebagai alat utama dalam penelitian itu.
Ada 100 orang relawan yang dibagi dalam 3 kelompok. Kelompok pertama adalah orang-orang yang sedang jatuh cinta. Kelompok kedua sebaliknya, orang yang putus cinta. Kelompok ketiga, adalah orang-orang yang tidak punya banyak pengalaman asmara.
Ketiga kelompok orang itu dipindai otaknya dengan MRI. Tampaklah hasilnya, bahwa orang-orang yang sedang jatuh cinta lebih aktif pada otak yang mengelola urusan emosi, gairah, dan hubungan sosial. Sementara pada kedua kelompok lain aktivitasnya tampak rendah.
Apa itu cinta? Manusia sangat sulit mendefinisikannya, karena ia memang bukan sesuatu yang pasti. Air adalah H2O, kita bisa mendefinisikannya dengan pasti. Tapi cinta adalah emosi, bercampur dengan persepsi, ditambah dengan berbagai aturan yang dibuat dalam struktur sosial.
"Aku cinta padamu," kata seorang laki-laki pada seorang perempuan. Fakta objektifnya, penisnya ngaceng saat berada di dekat perempuan itu. Sederhananya ia punya libido seksual pada perempuan tadi. Ia menyebutnya cinta. Ketika ia sudah tidak punya lagi libido itu, maka ia berkata,"Aku tidak lagi mencintaimu."
Apakah itu cinta? Ya. Anda boleh saja keberatan dengan definisi itu. Tapi ada begitu banyak fakta yang menunjukkan bahwa dengan cara itulah cinta dimaknai.
Bayu begitu mencintai Shinta. Tapi Shinta lebih nyaman berada di dekat Alex. Shinta kemudian menikah dengan Alex. Tapi Bayu tidak pernah berubah dalam perasaannya pada Shinta. Ia ingin Shinta suatu saat berada di dekatnya, hidup bersamanya. Bagi Bayu, itulah cinta. Bagi orang lain, Bayu cuma manusia goblok!
Dua orang yang dijodohkan, mereka tidak begitu kenal satu dengan yang lain. Untuk sekadar bersentuhan saja mereka malu. Mereka kemudian menikah. Mereka saling peduli satu sama lain, saling merawat dan melindungi, saling berbagi. Mereka terus melakukannya sampai tua, sampai keduanya mati. Itu pun cinta.
Sains sulit mendefinisikan cinta? Ya. Itu bukan karena sains kebingungan, tapi karena definisi cinta sangat subjektif, sehingga tidak ada definisi tunggal yang bisa merumuskan cinta. Sains tidak mungkin menjabarkan sesuatu yang definisinya saja pun tidak jelas.
Tapi setidaknya sains bisa menjelaskan bahwa semua itu sumbernya ada di aktivitas otak. Cinta terkait dengan rasa atau emosi. Ada bagian yang mengelola urusan itu di otak. Ketika Joni ngaceng saat dicium oleh Lia, otaknya memerintahkan biji pelirnya memproduksi hormon testosterone, dan Joni bergairah untuk bersenggama dengan Lia. Pada tubuh Lia diproduksi estrogen, lalu Lia juga horny. Kemudian Lia dan Joni bercinta.
Setelah sering kelonan, aktivitas otak Lia dan Joni membuat tubuh mereka berdua memproduksi hormon oxytocin, yang membuat mereka kangen satu sama lain. Ini pun suatu tanda cinta.
Format cinta yang lain ditandai dengan aktivitas dalam bentuk lain pada otak bagian lain. Tapi apapun bagiannya serta aktivitasnya, cinta dengan definisi-definisi di atas tadi dikendalikan oleh otak prosesnya. Sains tidak mendefinisikan cinta secara eksak, karena cinta memang tidak eksak. Tapi sains dapat menjelaskan prosesnya.
Apakah penjelasan sains sudah lengkap? Belum. Brain science masih sangat muda dibanding ilmu-ilmu lain. Tapi sebentar lagi ia akan berkembang sangat pesat.
Comments
Post a Comment