Menantang Presiden Suntik Vaksin Pertama
Banyak orang, termasuk tokoh penting, menantang Presiden Jokowi untuk disuntik vaksin Covid19 pertama kali. Apa yang sebenarnya sedang mereka ekspresikan melalui tantangan itu?
Bagi saya, tantangan itu tanda kebodohan. Vaksin itu sudah disuntikkan ke ribuan orang saat uji klinis. Siapa pun yang menerima suntikan pertama saat vaksinasi nanti, itu hanya soal seremoni belaka.
Yang menantang itu mungkin hendak meminta jaminan keamanan vaksin tersebut. Kalau memang aman, suntikkan ke orang nomor satu. Ini betul-betul kebodohan. Keamanan vaksin tidak dijamin dengan cara itu. Ada proses riset yang panjang sebelum vaksin itu disuntikkan ke manusia. Lalu, seperti disebut di atas, sudah ada ribuan orang yang menerima suntikan vaksin ini. Kalau vaksin itu tidak aman, ribuan orang tadi sudah kelojotan mati.
Intinya, itu sebenarnya ekspresi ketidakpercayaan. "Kami tidak percaya pada Presiden," begitu mungkin hal yang ingin disampaikan. Untuk apa? Terlebih bila itu disampaikan oleh tokoh yang berpengaruh. Anda ingin mengajak orang di bawah pengaruh Anda untuk tidak mempercayai Presiden? Alasannya apa?
Ada perbedaan penting antara tidak percaya dengan kritis. Kalau Anda kritis, mungkin Anda bisa menyatakan keberatan soal vaksin, dengan alasan yang masuk akal. Misalnya, Anda tidak mau vaksin dari Cina. Beberakan saja alasannya. Itu sikap kritis. Tapi mengucapkan tantangan seperti itu bukan sikap kritis. Itu lebih merupakan sikap tak percaya. Apa dasarnya? Tidak ada. Sekadar tidak suka saja.
Dalihnya, biar masyarakat percaya. Bukan. Anda yang tidak percaya, dan mencoba mempengaruhi masyarakat, agar tidak percaya juga, seperti Anda.
Nah, itu masalahnya. Anda orang berpengaruh, yang sering mengoceh soal akhlak mulia. Tapi Anda dengan telanjang memamerkan kebencian Anda, meski dibungkus dengan kata-kata santun.
Comments
Post a Comment