Skip to main content

Mendelegasikan Pekerjaan

Mendelegasikan Pekerjaan

Mendelegasikan pekerjaan artinya menyerahkan pekerjaan untuk dikerjakan oleh orang lain, yaitu bawahan kita. Kenapa diserahkan? Karena kita tidak boleh bekerja sendiri. Kita harus bekerja sebagai sebuah tim. Kita harus bekerja sama. Jadi, mendelegasikan pekerjaan adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap orang yang punya bawahan.


Apa keuntungannya? Keuntungannya sangat jelas, yaitu Anda tidak perlu lagi mengerjakan pekerjaan itu. Biarkan orang lain bekerja. Lho, kok enak? Memang harus seperti itu. Ini hal yang sebenarnya harus terjadi. Makin tinggi posisi seseorang makin sedikit porsi pekerjaan yang harus dia kerjakan sendiri. Orang pada posisi tinggi fungsinya bukan mengerjakan, tapi memikirkan apa yang harus dikerjakan. 


Seorang manajer bertugas menerima pekerjaan, membagikannya kepada bawahan, lalu memantau apakah pekerjaan itu berjalan sesuai rencana atau tidak. Kalau tidak, ia harus memikirkan tindakan koreksi. Kalau berjalan sesuai rencana, ia harus memikirkan upaya peningkatan. Ia juga harus memikirkan pengembangan dirinya dan bawahannya.


Ada banyak manajer yang tidak berkembang. Kinerjanya begitu-begitu saja. Sebabnya, ia tidak pandai mendelegasikan pekerjaan. Ia bekerja sendiri. Ia merasa semua hal harus dia kerjakan. 


Perilaku seperti itu biasanya muncul oleh beberapa sebab. Pertama, tidak paham mekanisme manajemen, yaitu bahwa ia harus mendelegasikan pekerjaan. Kedua, enggan membagi pekerjaan, karena takut terlihat tidak bekerja. Ketiga, tidak sanggup membina bawahan agar terampil bekerja. Keempat, perfeksionis, menganggap hanya dia saja yang bisa bekerja.


Kegagalan mendelegasikan pekerjaan adalah perangkap yang membuat manajer tidak bergerak di suatu posisi, tidak bisa naik ke jenjang yang lebih tinggi. 

Comments

Popular posts from this blog

Panduan Menyikapi Bulshit Maketing

Bulshit marketing itu adalah menjual produk dengan memakai jargon-jargon ilmiah, tapi sebenarnya isinya bulshit, atau omong kosong. Bentuk produknya bisa bermacam-macam. Ada air ajaib, batu ajaib, gelang-kalung ajaib, segala macam benda yang dibeli label nano, dan sebagainya. Polanya, ada satu alat yang memancarkan medan magnet, energi skalar, gelombang anu-anu, atau apalah, memakai istilah yang terdengar ilmiah. Orang awam akan ternganga mendengarnya. Tapi tidak ada sains di situ. Itu cuma omong kosong. Berikut ini adalah panduan yang bisa Anda pakai dalam menyikapi bulshit marketing. 1. Dunia kedokteran modern tidak menganjurkan untuk minum air jenis ini itu, diproses begini begitu. Tidak! Cukup air saja, yang bersih. Makin alami airnya makin baik. Air sungai, air sumur, air mata air, yang bersih, bening, tidak berbau, tidak berwarna, itu sudah baik.  2. Air yang diolah dengan listrik, medan ini itu, gelombang anu-anu, dibuat nano-nano, kalau pun berubah sifatnya setelah diolah, ...

Tak Harus Mulai dari Bawah

 Tak Harus Mulai dari Bawah Tadi saya memberi kuliah on line untuk mahasiswa tingkat 1 (TPB) ITB. Tiap tahun kawan saya Prof. Bobby Eka Gunara mengundang saya untuk mengisi satu sesi di kelas yang dia asuh. Saya isi dengan memperkenalkan dunia kerja kepada para mahasiswa. Salah satu penanya tadi bertanya soal dari mana mulai berkarir. Dia merujuk pada posting lulusan UI beberapa tahun yang lalu, yang enggan digaji kecil. Mahasiswa tadi bertanya, apakah sebaiknya kita jaga gengsi, atau mau mulai dari bawah? Jawaban saya, jangan mau mulai dari bawah. Mulailah dari tempat tertinggi yang bisa Anda tempati. Baik dalam hal posisi maupun gaji, cara berpikirnya sama. Kalau Anda bisa memulai karir dari posisi manajer, kenapa perlu mulai dari staf? Kalau bisa dapat gaji pertama 10 juta, kenapa perlu mulai dengan gaji 5 juta?  Ada banyak orang yang memulai karir langsung dari posisi menengah, atau posisi menengah atas. Saya melihat CV beberapa orang hebat seperti Pahala Mansuri atau Nadi...

Kuliah di UGM

 Kuliah di UGM Gama, atau Universitas Gadjah Mada, sudah saya dengar sejak saya masih SD. Kesannya? Tidak ada. Saya bahkan tidak tahu universitas itu apa. Jadi saya tidak peduli. Gama hanya sebuah nama yang perlu saya ingat untuk keperluan lomba cerdas cermat.  Ketika saya SMP, tepatnya madrasah tsanawiyah, saya mulai paham, bahwa Gama atau UGM adalah salah satu universitas  besar di Indonesia. Tertarik masuk? Tidak. Dulu saya bermimpi untuk masuk pesantren, belajar agama, dan kuliah ke Arab atau ke Mesir.  Ketika saya akhirnya tidak jadi melanjutkan ke pesantren karena Ayah tak sanggup membiayai, saya juga tidak terpikir untuk masuk UGM. Yang jadi mimpi saya dulu adalah kuliah ke luar negeri setamat SMA. Jadi, masuk UGM tidak pernah jadi mimpi saya.  Kenapa akhirnya masuk UGM? Itu cadangan saja. Akhirnya saya tidak lulus seleksi program beasiswa sekolah ke liar negeri, apa boleh buat, saya harus puas dengan lulus masuk ke UGM. Waktu tingkat satu saya masih cari...