Skip to main content

Mendisiplinkan Anak dengan Lembut

 Mendisiplinkan Anak dengan Lembut



Mengasuh anak itu menguras emosi. Ada banyak hal yang dilakukan anak yang bisa membuat kita marah. Anak-anak tidak disiplin, tidak patuh, melakukan hal-hal yang kita tidak ingin mereka melakukannya. Mereka berisik, bertengkar, bermain berlebihan, bahkan sampai merusak barang-barang.


Pada tingkat yang lebih tinggi, anak-anak melawan kita, orangtua mereka. Situasinya sudah berubah jadi konflik, bukan lagi hubungan kasih sayang. Situasi ini lebih menguras emosi. Bila tidak mampu mengendalikan, emosi kita justru akan memperburuk hubungan dengan anak. 


Apa yang harus dilakukan? Dalam pengasuhan anak kita perlu mengendalikan dua hal, yaitu perilaku anak dan emosi kita sendiri. Dalam hal ini ada satu hal penting yang perlu kita ingat. Yaitu, pengendalian perilaku anak harus berbasis pada suatu nilai, bukan sekadar mengikuti keinginan kita belaka.


Banyak orangtua yang ingin anaknya patuh. Apa yang harus dipatuhi? Kehendak orangtua. Kalau orangtua ingin anaknya diam, maka anak harus diam. Kalau orangtua ingin anaknya pakai baju merah, anak harus pakai baju merah. Begitu seterusnya. Anak diperlakukan sebagai pelaksana kehendak orangtua saja.


Ingatlah bahwa anak kita, berapa pun umurnya, adalah individu yang punya kehendak. Makin bertambah usianya, makin kuat kehendaknya. Mengendalikan perilaku anak dengan memaksakan kehendak kita sama artinya dengan menjajah mental mereka.


Lebih parah lagi, kehendak orang tua juga sering berubah dan tidak konsisten. Sebentar begini sebentar begitu. Anak dibuat bingung oleh ketiadaan standar atau pedoman untuk berperilaku.


Beban emosi kita bersumber dari hal ini. Kita menghendaki perilaku anak terkendali. Padahal kendali yang kita terapkan bertentangan dengan keadaan natural anak, yaitu bahwa mereka juga punya kehendak tadi. Kita sedang membangun konflik yang menguras emosi. Makin besar anak kita, makin besar konflik yang akan terjadi.


Lalu, bagaimana sebaiknya? Prinsipnya, anak-anak tidak harus patuh pada kehendak kita, tapi pada seperangkat nilai. Kita pun mematuhi nilai-nilai yang sama. Selama kita tidak mengubah nilai yang kita anut, tidak akan ada inkonsistensi yang membingungkan anak. 


Yang kita lakukan dalam pengasuhan anak adalah soal bagaimana anak-anak mematuhi nilai-nilai tadi. Bagaimana membuat anak-anak mematuhinya? Ini sebenarnya adalah proses belajar. Anak sebagai murid, dan kita sebagai guru. Proses belajarnya melalui interaksi kita dengan anak. Setiap detik yang berlalu dalam interaksi kita dengan anak adalah momen pendidikan. 


Orangtua harus hadir di dekat anaknya, seperti guru hadir di kelas. Semakin sedikit waktu yang disediakan untuk berinteraksi dengan anak, makin sedikit waktu belajar anak, dan makin sedikit pelajaran yang didapat anak. Makin sedikit pelajaran yang mereka peroleh, makin sedikit pula pemahaman mereka atas nilai-nilai tadi.


Sumber masalah emosi yang membuat hubungan orangtua dengan anak jadi tegang adalah, orangtua tak menyediakan cukup waktu untuk mengajarkan nilai-nilai pada anaknya, tapi berharap anak-anak paham dan patuh pada nilai-nilai itu. Itu ibarat guru yang jarang hadir di kelas, tapi berharap nilai tes murid-muridnya bagus. Artinya, Anda berharap memanen hasil yang tidak Anda semai, juga tidak Anda rawat dengan baik.


Sumber lain masalah emosi itu adalah harapan yang tak wajar. Anda mengharap perilaku tertentu, yang tak sesuai dengan kemampuan anak. Kenapa harapan itu ada? Karena Anda tak mengenal anak Anda, tidak memahami perkembangan mereka. Anda mungkin selalu hadir di dekat mereka, tapi tidak berempati menyelami segenap situasi, perkembangan, dan kebutuhan mereka. Anda jadi seperti berkomunikasi dengan orang yang memegang radio dengan frekuensi yang berbeda. Pesan dari kedua pihak tidak bisa ditangkap. 


Kenali anak Anda, melalui interaksi yang intensif, lalu tempatkan harapan Anda sesuai perkembangan mereka.


Ada hal-hal yang sebenarnya tidak melanggar nilai, yang ingin dilakukan anak, tapi kita tak menyukainya. Kalau kita larang, anak mempertanyakan kenapa tidak boleh. Kita tak sanggup menjelaskan sampai mereka paham. Akibatnya terjadi lagi konflik. 


Anak-anak perlu diberi otonomi. Hal-hal yang tidak melanggar nilai yang kita tetapkan untuk dianut, tidak perlu kita larang, meskipun kita tak suka. Bebaskan saja mereka untuk melakukannya. Itu akan mengurangi konflik yang tidak perlu dan menguras emosi. 


Perhatikan, sebenarnya ada banyak konflik emosional dengan anak yang bersumber pada orangtua. Pada diri kita sendiri. Kalau kita bisa mengendalikan diri, konflik itu tidak akan terjadi. Kita tidak akan terbebani oleh perasaan tidak enak, anak juga tidak terluka. Bagaimana cara mengendalikan emosi itu?


Situasi emosional terjadi ketika kita merespons tindakan anak secara reaktif. Ketika ada hal yang tidak sesuai selera kita, langsung kita bereaksi, dan sering kali reaksi itu negatif. Untuk mencegah hal itu, agar situasi emosi terkendali, pakar pengasuhan anak mengajarkan prinsip PETER dalam memberikan respons terhadap perilaku anak. PETER singkatan dari Pause, Empathisize, Think, Exhale, Respond.


Ketika terjadi sesuatu, ketika ada sikap anak yang menurut kita tidak patut, jangan serta-merta bertindak. Itu namanya reaktif. Tindakan reaktif tidak disertai dasar pemikiran logis, tidak pula berbasis pada satu tujuan. Jadi, jangan reaktif. Pause, ambillah jeda sejenak. Tahan tindakan Anda.


Kemudian, emphatisize, berempatilah. Pahami apa pemicu tindakan anak kita itu. Setiap tindakan anak pasti ada pemicunya. Cari, kenali dan pahami. Mengetahui pemicu adalah awal yang baik untuk menyelesaikan masalah. Kemudian pahami emosi apa yang ada di balik perilaku itu. Selami apa yang sedang dirasakan oleh anak kita. 


Selanjutnya think, berpikirlah. Anda akan mengambil tindakan. Apa tujuannya? Agar anak Anda belajar, mendalami suatu nilai, dan apa konsekuensi tindakan berbasis pada nilai tadi. Tetapkan apa tujuan pembelajaran, dan bagaimana metode untuk membuat anak kita belar. 


Sebelum metode itu dterapkan, exhale, tarik napas. Tenangkan diri Anda. Bebaskan diri dari amarah yang bisa membuyarkan tujuan pembelajaran tadi. Barulah Anda boleh melakukan hal lain, yaitu respond, atau bertindak sebagai respons terhadap perilaku anak.


Yang menguras emosi adalah respons yang tidak efektif. Yaitu respons yang tidak didahului oleh PETE.

Comments

Popular posts from this blog

Panduan Menyikapi Bulshit Maketing

Bulshit marketing itu adalah menjual produk dengan memakai jargon-jargon ilmiah, tapi sebenarnya isinya bulshit, atau omong kosong. Bentuk produknya bisa bermacam-macam. Ada air ajaib, batu ajaib, gelang-kalung ajaib, segala macam benda yang dibeli label nano, dan sebagainya. Polanya, ada satu alat yang memancarkan medan magnet, energi skalar, gelombang anu-anu, atau apalah, memakai istilah yang terdengar ilmiah. Orang awam akan ternganga mendengarnya. Tapi tidak ada sains di situ. Itu cuma omong kosong. Berikut ini adalah panduan yang bisa Anda pakai dalam menyikapi bulshit marketing. 1. Dunia kedokteran modern tidak menganjurkan untuk minum air jenis ini itu, diproses begini begitu. Tidak! Cukup air saja, yang bersih. Makin alami airnya makin baik. Air sungai, air sumur, air mata air, yang bersih, bening, tidak berbau, tidak berwarna, itu sudah baik.  2. Air yang diolah dengan listrik, medan ini itu, gelombang anu-anu, dibuat nano-nano, kalau pun berubah sifatnya setelah diolah, ...

Tak Harus Mulai dari Bawah

 Tak Harus Mulai dari Bawah Tadi saya memberi kuliah on line untuk mahasiswa tingkat 1 (TPB) ITB. Tiap tahun kawan saya Prof. Bobby Eka Gunara mengundang saya untuk mengisi satu sesi di kelas yang dia asuh. Saya isi dengan memperkenalkan dunia kerja kepada para mahasiswa. Salah satu penanya tadi bertanya soal dari mana mulai berkarir. Dia merujuk pada posting lulusan UI beberapa tahun yang lalu, yang enggan digaji kecil. Mahasiswa tadi bertanya, apakah sebaiknya kita jaga gengsi, atau mau mulai dari bawah? Jawaban saya, jangan mau mulai dari bawah. Mulailah dari tempat tertinggi yang bisa Anda tempati. Baik dalam hal posisi maupun gaji, cara berpikirnya sama. Kalau Anda bisa memulai karir dari posisi manajer, kenapa perlu mulai dari staf? Kalau bisa dapat gaji pertama 10 juta, kenapa perlu mulai dengan gaji 5 juta?  Ada banyak orang yang memulai karir langsung dari posisi menengah, atau posisi menengah atas. Saya melihat CV beberapa orang hebat seperti Pahala Mansuri atau Nadi...

Kuliah di UGM

 Kuliah di UGM Gama, atau Universitas Gadjah Mada, sudah saya dengar sejak saya masih SD. Kesannya? Tidak ada. Saya bahkan tidak tahu universitas itu apa. Jadi saya tidak peduli. Gama hanya sebuah nama yang perlu saya ingat untuk keperluan lomba cerdas cermat.  Ketika saya SMP, tepatnya madrasah tsanawiyah, saya mulai paham, bahwa Gama atau UGM adalah salah satu universitas  besar di Indonesia. Tertarik masuk? Tidak. Dulu saya bermimpi untuk masuk pesantren, belajar agama, dan kuliah ke Arab atau ke Mesir.  Ketika saya akhirnya tidak jadi melanjutkan ke pesantren karena Ayah tak sanggup membiayai, saya juga tidak terpikir untuk masuk UGM. Yang jadi mimpi saya dulu adalah kuliah ke luar negeri setamat SMA. Jadi, masuk UGM tidak pernah jadi mimpi saya.  Kenapa akhirnya masuk UGM? Itu cadangan saja. Akhirnya saya tidak lulus seleksi program beasiswa sekolah ke liar negeri, apa boleh buat, saya harus puas dengan lulus masuk ke UGM. Waktu tingkat satu saya masih cari...