Skip to main content

Panduan Menyikapi Bulshit Maketing



Bulshit marketing itu adalah menjual produk dengan memakai jargon-jargon ilmiah, tapi sebenarnya isinya bulshit, atau omong kosong. Bentuk produknya bisa bermacam-macam. Ada air ajaib, batu ajaib, gelang-kalung ajaib, segala macam benda yang dibeli label nano, dan sebagainya. Polanya, ada satu alat yang memancarkan medan magnet, energi skalar, gelombang anu-anu, atau apalah, memakai istilah yang terdengar ilmiah. Orang awam akan ternganga mendengarnya. Tapi tidak ada sains di situ. Itu cuma omong kosong.

Berikut ini adalah panduan yang bisa Anda pakai dalam menyikapi bulshit marketing.

1. Dunia kedokteran modern tidak menganjurkan untuk minum air jenis ini itu, diproses begini begitu. Tidak! Cukup air saja, yang bersih. Makin alami airnya makin baik. Air sungai, air sumur, air mata air, yang bersih, bening, tidak berbau, tidak berwarna, itu sudah baik. 

2. Air yang diolah dengan listrik, medan ini itu, gelombang anu-anu, dibuat nano-nano, kalau pun berubah sifatnya setelah diolah, akan dialamikan lagi oleh tubuh. Jadi tidak punya efek khusus. Apalagi kalau cuma direndami dengan batu, gelas, atau benda tertentu. Tidak ada efek. Itu cuma tahayul yang setara dengan air yang dijamli-jampi oleh dukun.

3. Dunia fisika maupun medis tidak mengenal gelombang ajaib atau energi gaib yang dipancarkan oleh suatu zat, yang punya kekuatan menyembuhkan. Bagaimana ceritanya gelombang bisa menyembuhkan?

4. Penyakit adalah keadaan tubuh yang tidak normal akibat gangguan kuman dari luar, tenganggunya fungs organ, faktor eksternal seperti suhu dan tekanan, atau akibat kekerasan fisik. Tanpa ada gangguan spesifik, Anda tidak perlu merasa tidak sehat. Anda sehat. Jadi cukup makan dan minum seperti biasa, dengan pola makan berbasis gizi seimbang. Anda tidak perlu barang ajaib. 

5. Kalau Anda menderita suatu penyakit, maka Anda harus menjalani pengobatan yang spesifik. Artinya, obat A, tindakan B khusus untuk penyakit C. Tidak ada metode pengobatan yang menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tidak ada obat yang cocok untuk semua penyakit. Kalau ada yang menyodorkan obat yang bisa menyembuhkan macam-macam penyakit, bisa dipastikan itu bohong.

6. Setiap penyakit diobati dengan obat tertentu, dengan dosis tertentu, untuk orang tertentu. Dua orang dengan gejala penyakit yang sama tidak otomatis menderita penyakit yang sama. Dua orang yang menderita penyakit yang sama pun tidak otomatis diobati dengan obat yang sama. Jadi kalau ada orang mengaku sakit anu, diobati dengan obat anu, lalu sembuh, tidak berarti Anda juga akan sembuh karena minum obat yang sama. Tubuh Anda berbeda dengan tubuh dia. Salah minum obat bisa menimbulkan efek sampingan yang membahayakan Anda. Minumlah obat yang Anda terima dari dokter, yang didahului dengan pemeriksaan. 

7. Banyak dokter yang menyodorkan obat-obat tidak dalam jalur medis. Ingat, dokter juga manusia. Jangan percaya pada dokter, tapi percayalah pada sistem dan kaidah medis. Artinya, kalau dokter mematuhi kaidah medis, percayai. Kalau tidak, tinggalkan. Jangan mau dijadikan bahan eksperimen. Juga jangan mau diporoti oleh dokter sesat.

Comments

Popular posts from this blog

Tak Harus Mulai dari Bawah

 Tak Harus Mulai dari Bawah Tadi saya memberi kuliah on line untuk mahasiswa tingkat 1 (TPB) ITB. Tiap tahun kawan saya Prof. Bobby Eka Gunara mengundang saya untuk mengisi satu sesi di kelas yang dia asuh. Saya isi dengan memperkenalkan dunia kerja kepada para mahasiswa. Salah satu penanya tadi bertanya soal dari mana mulai berkarir. Dia merujuk pada posting lulusan UI beberapa tahun yang lalu, yang enggan digaji kecil. Mahasiswa tadi bertanya, apakah sebaiknya kita jaga gengsi, atau mau mulai dari bawah? Jawaban saya, jangan mau mulai dari bawah. Mulailah dari tempat tertinggi yang bisa Anda tempati. Baik dalam hal posisi maupun gaji, cara berpikirnya sama. Kalau Anda bisa memulai karir dari posisi manajer, kenapa perlu mulai dari staf? Kalau bisa dapat gaji pertama 10 juta, kenapa perlu mulai dengan gaji 5 juta?  Ada banyak orang yang memulai karir langsung dari posisi menengah, atau posisi menengah atas. Saya melihat CV beberapa orang hebat seperti Pahala Mansuri atau Nadi...

Kuliah di UGM

 Kuliah di UGM Gama, atau Universitas Gadjah Mada, sudah saya dengar sejak saya masih SD. Kesannya? Tidak ada. Saya bahkan tidak tahu universitas itu apa. Jadi saya tidak peduli. Gama hanya sebuah nama yang perlu saya ingat untuk keperluan lomba cerdas cermat.  Ketika saya SMP, tepatnya madrasah tsanawiyah, saya mulai paham, bahwa Gama atau UGM adalah salah satu universitas  besar di Indonesia. Tertarik masuk? Tidak. Dulu saya bermimpi untuk masuk pesantren, belajar agama, dan kuliah ke Arab atau ke Mesir.  Ketika saya akhirnya tidak jadi melanjutkan ke pesantren karena Ayah tak sanggup membiayai, saya juga tidak terpikir untuk masuk UGM. Yang jadi mimpi saya dulu adalah kuliah ke luar negeri setamat SMA. Jadi, masuk UGM tidak pernah jadi mimpi saya.  Kenapa akhirnya masuk UGM? Itu cadangan saja. Akhirnya saya tidak lulus seleksi program beasiswa sekolah ke liar negeri, apa boleh buat, saya harus puas dengan lulus masuk ke UGM. Waktu tingkat satu saya masih cari...