Tak Harus Mulai dari Bawah
Tadi saya memberi kuliah on line untuk mahasiswa tingkat 1 (TPB) ITB. Tiap tahun kawan saya Prof. Bobby Eka Gunara mengundang saya untuk mengisi satu sesi di kelas yang dia asuh. Saya isi dengan memperkenalkan dunia kerja kepada para mahasiswa.
Salah satu penanya tadi bertanya soal dari mana mulai berkarir. Dia merujuk pada posting lulusan UI beberapa tahun yang lalu, yang enggan digaji kecil. Mahasiswa tadi bertanya, apakah sebaiknya kita jaga gengsi, atau mau mulai dari bawah?
Jawaban saya, jangan mau mulai dari bawah. Mulailah dari tempat tertinggi yang bisa Anda tempati. Baik dalam hal posisi maupun gaji, cara berpikirnya sama. Kalau Anda bisa memulai karir dari posisi manajer, kenapa perlu mulai dari staf? Kalau bisa dapat gaji pertama 10 juta, kenapa perlu mulai dengan gaji 5 juta?
Ada banyak orang yang memulai karir langsung dari posisi menengah, atau posisi menengah atas. Saya melihat CV beberapa orang hebat seperti Pahala Mansuri atau Nadiem Makarim. Karir mereka dimulai dari posisi tinggi. Kenapa bisa? Mereka lulusan dari universitas beken. Tapi soalnya bukan itu. Mereka punya skill yang memang istimewa.
Kembali ke pertanyaan mahasiswa tadi, soalnya bukan karena seseorang lulusan UI atau ITB lantas dia berhak menuntut gaji atau posisi tinggi. Soalnya dia memang punya kualifikasi tinggi. Lebih jauh lagi, dia punya skill yang membuat dia bisa berkontribusi besar kepada bisnis yang akan dia masuki. Kuncinya di situ.
Kalau kehadiran Anda di sebuah bisnis bisa menambah laba perusahaan 3 milyar, cukup fair kalau Anda digaji 300 juta setahun, atau lebih dari itu. Karena itu jangan sekadar berpikir bagaimana diterima bekerja, tapi berpikirlah bagaimana berkontribusi pada sebuah bisnis. Ketika Anda membangun skill, jangan berpikir dengan standar bisa lolos seleksi masuk kerja, tapi berpikirlah bagaimana cara memberi solusi pada bisnis. Kalau Anda bisa seperti itu, jangankan jadi manajer, langsung jadi CEO pun mungkin.
Comments
Post a Comment