Realistis atau Ambisius?
Dalam kelas manajemen yang saya asuh ada peserta bertanya soal ini. Dia memasang target bisnis realistis dengan hitungan cermat. Sementara rekan bisnisnya memasang target tinggi tanpa hitungan cermat. Katanya, hitungan cermat tidak diperlukan.
Pertama saya tegaskan, semua perusahaan besar bergerak dengan perhitungan cermat. Rencana bisnis dihitung dengan detil, berbasis data sahih. Risiko dihitung, dan disiapkan langkah-langkah antisipasi. Kalau ada bisnis tanpa perhitungan, itu lebih tepat disebut berjudi.
Tapi saya ingatkan soal kata "realistis" tadi. Realistis itu artinya masuk akal, berdasarkan sebuah perhitungan. Pertanyaannya, apakah target ambisius tadi tidak realistis? Bukan begitu. Target ambisius itu tidak realistis bila tidak disertai perhitungan yang masuk akal. Kalau ada target ambisius, cobalah merumuskan formula yang masuk akal untuk mencapainya. Jangan berhenti dengan alasan itu tidak realistis. Sesuatu tampak tidak realistis hanya karena Anda tidak tahu formulanya. Kalau Anda tahu, ia jadi realistis.
Kadang orang memakai kata ralistis untuk menutupi keengganan dia menjawab tantangan. Realistis, main aman, itu sering kali hanya istilah untuk menutupi kemalasan.
Bidiklah tinggi, ambisiuslah. Tapi jangan berjudi. Rumuskan langkah-langkah nyata untuk membuat ambisi Anda menjadi rencana yang matang.
Comments
Post a Comment