Skip to main content

Realistis atau Ambisius

 Realistis atau Ambisius?


Dalam kelas manajemen yang saya asuh ada peserta bertanya soal ini. Dia memasang target bisnis realistis dengan hitungan cermat. Sementara rekan bisnisnya memasang target tinggi tanpa hitungan cermat. Katanya, hitungan cermat tidak diperlukan.


Pertama saya tegaskan, semua perusahaan besar bergerak dengan perhitungan cermat. Rencana bisnis dihitung dengan detil, berbasis data sahih. Risiko dihitung, dan disiapkan langkah-langkah antisipasi. Kalau ada bisnis tanpa perhitungan, itu lebih tepat disebut berjudi.


Tapi saya ingatkan soal kata "realistis" tadi. Realistis itu artinya masuk akal, berdasarkan sebuah perhitungan. Pertanyaannya, apakah target ambisius tadi tidak realistis? Bukan begitu. Target ambisius itu tidak realistis bila tidak disertai perhitungan yang masuk akal. Kalau ada target ambisius, cobalah merumuskan formula yang masuk akal untuk mencapainya. Jangan berhenti dengan alasan itu tidak realistis. Sesuatu tampak tidak realistis hanya karena Anda tidak tahu formulanya. Kalau Anda tahu, ia jadi realistis.


Kadang orang memakai kata ralistis untuk menutupi keengganan dia menjawab tantangan. Realistis, main aman, itu sering kali hanya istilah untuk menutupi kemalasan. 


Bidiklah tinggi, ambisiuslah. Tapi jangan berjudi. Rumuskan langkah-langkah nyata untuk membuat ambisi Anda menjadi rencana yang matang.

Comments

Popular posts from this blog

Panduan Menyikapi Bulshit Maketing

Bulshit marketing itu adalah menjual produk dengan memakai jargon-jargon ilmiah, tapi sebenarnya isinya bulshit, atau omong kosong. Bentuk produknya bisa bermacam-macam. Ada air ajaib, batu ajaib, gelang-kalung ajaib, segala macam benda yang dibeli label nano, dan sebagainya. Polanya, ada satu alat yang memancarkan medan magnet, energi skalar, gelombang anu-anu, atau apalah, memakai istilah yang terdengar ilmiah. Orang awam akan ternganga mendengarnya. Tapi tidak ada sains di situ. Itu cuma omong kosong. Berikut ini adalah panduan yang bisa Anda pakai dalam menyikapi bulshit marketing. 1. Dunia kedokteran modern tidak menganjurkan untuk minum air jenis ini itu, diproses begini begitu. Tidak! Cukup air saja, yang bersih. Makin alami airnya makin baik. Air sungai, air sumur, air mata air, yang bersih, bening, tidak berbau, tidak berwarna, itu sudah baik.  2. Air yang diolah dengan listrik, medan ini itu, gelombang anu-anu, dibuat nano-nano, kalau pun berubah sifatnya setelah diolah, ...

Tak Harus Mulai dari Bawah

 Tak Harus Mulai dari Bawah Tadi saya memberi kuliah on line untuk mahasiswa tingkat 1 (TPB) ITB. Tiap tahun kawan saya Prof. Bobby Eka Gunara mengundang saya untuk mengisi satu sesi di kelas yang dia asuh. Saya isi dengan memperkenalkan dunia kerja kepada para mahasiswa. Salah satu penanya tadi bertanya soal dari mana mulai berkarir. Dia merujuk pada posting lulusan UI beberapa tahun yang lalu, yang enggan digaji kecil. Mahasiswa tadi bertanya, apakah sebaiknya kita jaga gengsi, atau mau mulai dari bawah? Jawaban saya, jangan mau mulai dari bawah. Mulailah dari tempat tertinggi yang bisa Anda tempati. Baik dalam hal posisi maupun gaji, cara berpikirnya sama. Kalau Anda bisa memulai karir dari posisi manajer, kenapa perlu mulai dari staf? Kalau bisa dapat gaji pertama 10 juta, kenapa perlu mulai dengan gaji 5 juta?  Ada banyak orang yang memulai karir langsung dari posisi menengah, atau posisi menengah atas. Saya melihat CV beberapa orang hebat seperti Pahala Mansuri atau Nadi...

Kuliah di UGM

 Kuliah di UGM Gama, atau Universitas Gadjah Mada, sudah saya dengar sejak saya masih SD. Kesannya? Tidak ada. Saya bahkan tidak tahu universitas itu apa. Jadi saya tidak peduli. Gama hanya sebuah nama yang perlu saya ingat untuk keperluan lomba cerdas cermat.  Ketika saya SMP, tepatnya madrasah tsanawiyah, saya mulai paham, bahwa Gama atau UGM adalah salah satu universitas  besar di Indonesia. Tertarik masuk? Tidak. Dulu saya bermimpi untuk masuk pesantren, belajar agama, dan kuliah ke Arab atau ke Mesir.  Ketika saya akhirnya tidak jadi melanjutkan ke pesantren karena Ayah tak sanggup membiayai, saya juga tidak terpikir untuk masuk UGM. Yang jadi mimpi saya dulu adalah kuliah ke luar negeri setamat SMA. Jadi, masuk UGM tidak pernah jadi mimpi saya.  Kenapa akhirnya masuk UGM? Itu cadangan saja. Akhirnya saya tidak lulus seleksi program beasiswa sekolah ke liar negeri, apa boleh buat, saya harus puas dengan lulus masuk ke UGM. Waktu tingkat satu saya masih cari...