Skip to main content

Vaksin dan Ocehan Cing Mi

 Vaksin dan Ocehan Cing Mi


Waktu pemerintah Indonesia memutuskan untuk melakukan uji klinis vaksin Covid19 buatan Cina, kaum Cing Mi (cacing kremi) mengejek: "Mau aja dijadikan kelinci percobaan." Bukang, Cing. Itu manusia percobaan. Uji klinis itu harus dilakukan terhadap manusia. Tidak lagi bisa terhadap hewan. Itu kamu anggap rendah? Ya karena cacing kremi nggak paham uji klinis. Tanpa uji klinis kita tidak akan pernah punya vaksin. Jadi memilih jadi manusia percobaan itu bukan tindakan rendah. 


Lalu kaum Cing Mi menyebar berita "Cina kekurangan monyet untuk uji vaksin". Dengan imajinasi mereka, dikaranglah cerita seolah orang Cina tidak mau disuntik pakai vaksin mereka sendiri. Cuma pakai monyet doang. Itu lagi-lagi kebodohan. Sejak bulan Juli Cina sudah menyuntikkan ratusan ribu  vaksin ke rakyatnya, sebagai penggunaan darurat. Ini bukan tes, Cing, penggunaan!


Memang penggunaan itu dikritik sebagian ilmuwan. Kok sudah dipakai sebelum uji klinis selesai? Ya, karena darurat.


Kenapa Indonesia sudah beli? Ya, karena darurat juga. Kalau kita baru beli setelah semuanya beres, mungkin kita tidak kebagian. Keadaan darurat sering kali memerlukan tindakan darurat yang tidak bisa dinilai pakai nalar normal.


Jadi sebenarnya bagaimana? Kalau memang ingin tahu, ya tunggu. Saya barusan baca pendapat seorang ahli, maaf nggak ketemu lagi link-nya. Mana yang lebih bagus vaksinnya? Modena, Pfizer, atau Sinovac? Jawab dia,"time will tell." Cina mengembangkan vaksin pakai metode lama. Apakah metode itu kurang ampuh? Belum tentu, dan belum tahu. 


Sementara kita belum tahu, ya tunggu. Lha ini belum tahu kok sudah mencela. Basis celaan itu pakai apa? Pakai nalar cacing kremi.


Saya bukan pemuja pemerintah. Tapi usaha yang dilakukan pemerintah untuk menangani Covid19 ini perlu didukung. Kalau tidak mendukung, tutup mulut sajalah. Jangan menebar keraguan berbasis pada nalar cacing kremi. 


Adakan yang perlu kita waspadai? Ada banyak. Kemungkinan korupsi dari vaksin ini menganga. Kita harus kritis soal itu. Tapi ingat, kritis itu harus berbasis data, bukan prasangka.

Comments

Popular posts from this blog

Kuliah di UGM

 Kuliah di UGM Gama, atau Universitas Gadjah Mada, sudah saya dengar sejak saya masih SD. Kesannya? Tidak ada. Saya bahkan tidak tahu universitas itu apa. Jadi saya tidak peduli. Gama hanya sebuah nama yang perlu saya ingat untuk keperluan lomba cerdas cermat.  Ketika saya SMP, tepatnya madrasah tsanawiyah, saya mulai paham, bahwa Gama atau UGM adalah salah satu universitas  besar di Indonesia. Tertarik masuk? Tidak. Dulu saya bermimpi untuk masuk pesantren, belajar agama, dan kuliah ke Arab atau ke Mesir.  Ketika saya akhirnya tidak jadi melanjutkan ke pesantren karena Ayah tak sanggup membiayai, saya juga tidak terpikir untuk masuk UGM. Yang jadi mimpi saya dulu adalah kuliah ke luar negeri setamat SMA. Jadi, masuk UGM tidak pernah jadi mimpi saya.  Kenapa akhirnya masuk UGM? Itu cadangan saja. Akhirnya saya tidak lulus seleksi program beasiswa sekolah ke liar negeri, apa boleh buat, saya harus puas dengan lulus masuk ke UGM. Waktu tingkat satu saya masih cari...

Mental Gratis

 Mental Gratis Sejak tumbangnya Soeharto mulai banyak politikus yang menumbuhkan mental gratis. Entah siapa yang memulai. Politikus menjanjikan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan berbagai layanan lain secara gratis. Kalau mau menggratiskan, berarti politikus itu merakyat, peduli pada wong cilik, dan itu keren. Padahal ini adalah pembodohan. Digratiskan itu bukan berarti layanan itu tanpa biaya. Segala macam layanan itu ada biayanya. Soalnya adalah, siapa yang menanggung biayanya? Pemerintah. Dari mana sumber dananya? Dari anggaran.  Apa yang dilakukan oleh politikus itu? Dia benar-benar keren kalau dia mampu menggali sumber-sumber pendapatan baru, yang dipakai untuk membiayai layanan tadi. Tapi itu nyaris tidak pernah terjadi. Ia hanya mengalihkan pos anggaran. Itu artinya ada layanan lain yang dihilangkan.  Apa yang dihilangkan? Nah, ini yang mengerikan. Banyak hal fundamental yang dihilangkan, demi mengejar layanan gratis tadi. Pembangunan infrastruktur, pengembangan ...

The Science of Love

 The Science of Love Professor Xiaochu Zhang dari University of Science and Technology of China, yang bekerja sama dengan para peneliti dari Icahn School of Medicine at Mount Sinai, New York, melakukan penelitian tentang cinta. Mereka memakai MRI sebagai alat utama dalam penelitian itu. Ada 100 orang relawan yang dibagi dalam 3 kelompok. Kelompok pertama adalah orang-orang yang sedang jatuh cinta. Kelompok kedua sebaliknya, orang yang putus cinta. Kelompok ketiga, adalah orang-orang yang tidak punya banyak pengalaman asmara. Ketiga kelompok orang itu dipindai otaknya dengan MRI. Tampaklah hasilnya, bahwa orang-orang yang sedang jatuh cinta lebih aktif pada otak yang mengelola urusan emosi, gairah, dan hubungan sosial. Sementara pada kedua kelompok lain aktivitasnya tampak rendah. Apa itu cinta? Manusia sangat sulit mendefinisikannya, karena ia memang bukan sesuatu yang pasti. Air adalah H2O, kita bisa mendefinisikannya dengan pasti. Tapi cinta adalah emosi, bercampur dengan perseps...